Thursday, April 2, 2026

Sore yang biasa saja

Sore membawa harapan yang semu,
dan malam mengembalikanmu dalam diam.

Di antara banyak maaf yang kusampaikan pada malam,
aku memilih tetap ada—
dengan segala kurang,
menjalani apa yang memang harus dilalui,
hingga hari itu tiba, mungkin lebih dekat dari yang kukira.

Bisa saja lusa,
atau petang berikutnya,
atau saat ketika aku tidak lagi mengenali diriku.

Dalam hidup yang sekali ini,
aku mencoba hadir di tiap detiknya,
menerima pahit dan manis,
serta lega seperti waktu duha yang sinarnya mulai menembus kaca.

Lewat tulisan singkat ini,
aku—seperti sore yang berlalu
mengerti bahwa setiap hal punya waktunya,
datang, lalu selesai.

karena ketika kita tiada, hanya hari seperti sore yang biasa saja.


Saturday, October 4, 2025

Rokok Pertama Setelah Tertidur



Rokok pertama setelah tertidur selalu punya rasa yang berbeda.
Bukan karena nikotinnya,
tapi karena ia mengingatkan perjalanan panjang
yang tak selalu sempat kutulis.

Hampir empat tahun lalu, aku berani membayangkan diriku berangkat bekerja,
menelusuri jalan MT Haryono, menyeberang Ahmad Yani,
lalu berbelok ke arah Gajah Mada —
menuju gerbang sebuah universitas Islam negeri,
yang kala itu terasa seperti takdir hidupku.
Namun dunia punya maksud dan arah lain.

Hari-hari berikutnya terasa berat,
dengan pekerja lapangan yang bersama matahari,
jurnalis pemalu yang terbata dalam bicara,
penjual parfum di sela hari yang panjang,
pengelola media usaha milik orang lain,
dan tukang perekam di balik hiruk-pikuk acara,
yang gajinya entah kapan akan dibayarkan.

Semua itu seperti jalan memutar — panjang dan melelahkan,
namun ternyata tetap mengantarkan ke tempat yang hampir sama,
yang dulu hanya berani untuk dikhayalkan.

Kini aku masih melewati jalan yang sama:
MT Haryono lalu memutar ke Ahmad Yani,
namun dengan rasa syukur ketika melewatinya.

Malam ini, setelah terbangun dari tubuh yang tertidur,
dengan masih menggenakan celana panjang yang kusut,
minyak di wajah, dan langit kamar yang gelap,
jam menunjuk sebelas lewat tiga belas.
Aku menyalakan sebatang rokok pertama setelah tertidur setelah petang.

Asapnya naik perlahan,
membawa harapan sederhana:
semoga esok tetap bisa kulalui,
semoga tahun-tahun berikutnya masih sudi memberi kesempatan,
dan semoga aku tak pernah lupa
betapa jauhnya langkah yang sudah kutempuh
untuk sampai di titik ini.

titik ini tentu tidak mudah,
dan tidak mudah pula untuk menjalani hari demi harinya.
Namun aku selalu berharap,
agar senantiasa diberikan kelapangan hati selapang-lapangnya,
serta ruang untuk mendapatkan ketenangan dalam menjalaninya.


meski nanti, aku punya arah tujuan hidup lainnya.

Sunday, April 10, 2022

April.

 


 

Halo April dan hari-hari sebelumnya,

Hanya ingin mengutarakan rasa terima kasih sebesar-besarnya atas rahmat dan rezeki yang hadir, dan semoga yang akan hadir nantinya, hehe. Rezeki berupa materi hingga berupa kesehatan keluarga, kesehatan diri, lingkungan yang support dan teman-teman yang super baik.

Menjadi manusia sempurna tentu jauh dari kata itu. Alhamdulilah, aku merasa cukup dan bersyukur setiap harinya atas segala yang kumiliki hari ini. Semoga, esok dan seterusnya, selalu baik-baik saja, seperti hari-hari hingga bulan April ya! 

La takhaf, wa la tahzan! Semangattt!!!


Pontianak, 11 April 2022.


 

Tuesday, November 16, 2021

.

 


"I spent a long time, wondering why you did what you did."

I tried to fix us, but you didn't even want to stay.

"Finally, I accepted what you did to me. either what I know or I don't hehe."

Terima kasih atas waktunya. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah yang maha besar, dijauhi dari segala maha bahaya serta dipermudah dalam segala urusan. Aamiin Allahuma Aamiin

Pontianak, 16th November 2021.