Sore membawa harapan yang semu,
dan malam mengembalikanmu dalam diam.
Di antara banyak maaf yang kusampaikan pada malam,
aku memilih tetap ada—
dengan segala kurang,
menjalani apa yang memang harus dilalui,
hingga hari itu tiba, mungkin lebih dekat dari yang kukira.
Bisa saja lusa,
atau petang berikutnya,
atau saat ketika aku tidak lagi mengenali diriku.
Dalam hidup yang sekali ini,
aku mencoba hadir di tiap detiknya,
menerima pahit dan manis,
serta lega seperti waktu duha yang sinarnya mulai menembus kaca.
Lewat tulisan singkat ini,
aku—seperti sore yang berlalu
mengerti bahwa setiap hal punya waktunya,
datang, lalu selesai.
karena ketika kita tiada, hanya hari seperti sore yang biasa saja.

No comments:
Post a Comment